Cuma tetangga sebelah yang suka melakukan hal ini, tapi itu dulu. Sebelum semua menjadi sandiwara dan luka. Kupikir sudah tidak ada lagi sisa cerita. Ternyata, saat membuat catatan pada note itu aku menemukan jejaknya. Masih sama, khas sekali, persis seperti sediakala. Begitupun pada lain-lainnya yang aku simpan kemarin pada gambar. Ini membuat aku tiba-tiba teringat, yang lalu, yang hari ini harus dibiarkan. Tetangga sebelah, di sini. Mulanya jual mahal. Tak kenal rupa. Berbicara hanya seperlunya tanpa basa-basi pula. Menyungging senyum pun jarang. Jika berjalan lurus ke depan padahal di samping dan di hadapan ada orang. Sedikit tidak paham memang tapi kuabaikan. Lama-lama setelah berkenalan denganku, karet gelang yang sering mental. Ia seolah menjelma petasan tahun baru. Seperti analogiku, petasan. Keadaan itu tak berlangsung lama karena setelahnya kami berduka, menutup muka hingga hari ini dan entah sampai kapan, sesuka hatinya. Sekian~
Mangsa tepang manah, ratug, tunggul hulu angen. Ngoteap hawana nyedek kanu pikir. Horeang, anjeun nu nyulusup ngagunasika pikir teh. Manah lir wangunan tohaga nu runtuh ku werejit kaasih. Anjeun ulubiung nunda werejit eta. Mangsa dipaluruh, kula nendeun rasa ka anjeun. Lebah manah nu paling jero. Sajeroning samudra nu pinuh ku galura. Kuniang, ngajungkiring cinta lebah dinya. Horeng, cinta, werejit ka anjeun. [4 Agustus 2013] *** Pesan ini masih ku simpan baik-baik, darimu yang mengirimnya malam-malam melalui ponsel. Meskipun aku tidak tahu semua arti setiap katanya tapi aku tahu maksudnya. Terima kasih.
Tidak semua orang bisa menyeimbangi kemampuan verbal dan nonverbal. Terkadang ada orang yang mahir menulis namun sedikit sulit mengungkapkan idenya lewat verbal. Begitupun sebaliknya. Tapi, apalah guna jika salah satu dari kedua kemampuan itu tidak diaplikasikan. Hanya sekedar wacana, itu biasa. Disebuah lembaga yang sedang saya geluti. Hal ini menjadi perdebatan keras. Jelas, karena terbukti dengan kurang produktifnya anggota. Dan yang lebih fatal lagi kemoloran akut dateline produk. Padahal produk adalah citra lembaga. Wacana yang berekspektasi tinggi sangat saya apresiasi. Namun untuk tatanan aplikasi, belum ada kejelasan bagaimana strategi meraih tujuan. Ini hanya onani wacana . Dan melihat pada kacamata komunikasi ini tak lebih sebagai pencitraan. Berbicara masalah produk bagi saya itu adalah sebuah harga diri. Pihak internal dan eksternal memperhitungkan dan menilai keberadaan lembaga dari hasil kreativitas kami yaitu media. Saya menganggap media kami adalah ...
Komentar