Postingan

Hidup Sehat Untuk Masa Depan

Senangnya, hari ini mendengar kabar dari sekre kalau layout sudah selesai. Itu pertanda esok aku akan meluncur ke percetakan kemudian persiapan sirkulasi massal. Yippiii, Aku akan kembali hidup sehat :) Maaf, maksudku aku ingin hidup teratur bersama jadwal mingguan yang selalu kubuat. Kutargetkan sampai akhir minggu ini aku akan pulang larut malam. Ya, supaya Nyonya Besar tidak selalu berpesan "jangan pulang malem-malem, iaa" saat aku pamit pergi kuliah. Tentunya bukan tanpa alasan. Banyak hal yang kemudian menjadi tugasku ke depan. Aku memiliki tanggungjawab untuk mengatur dan terjun langsung ke lapangan usai turun cetak. Dan aku menargetkan akhir minggu ini usai. Amin, semoga dan harus! Namun bukan berarti aku tidak akan berkunjung ke rumah keduaku. Ikatan emosional dengan tempat itu sampai kapanpun tidak akan luntur. Hanya saja aku akan lebih baik dalam manajemen waktunya. Berimbanglah, 60% kampus dan 40% Suaka. Tidak bermaksud melepas tanggungjawab. Tapi...

Evaluasi Edisi Februari!

Tidak semua orang bisa menyeimbangi kemampuan verbal dan nonverbal. Terkadang ada orang yang mahir menulis namun sedikit sulit mengungkapkan idenya lewat verbal. Begitupun sebaliknya. Tapi, apalah guna jika salah satu dari kedua kemampuan itu tidak diaplikasikan. Hanya sekedar wacana, itu biasa. Disebuah lembaga yang sedang saya geluti. Hal ini menjadi perdebatan keras. Jelas, karena terbukti dengan kurang produktifnya anggota. Dan yang lebih fatal lagi kemoloran akut dateline produk. Padahal produk adalah citra lembaga. Wacana yang berekspektasi tinggi sangat saya apresiasi. Namun untuk tatanan aplikasi, belum ada kejelasan bagaimana strategi meraih tujuan. Ini hanya onani wacana . Dan melihat pada kacamata komunikasi ini tak lebih sebagai pencitraan. Berbicara masalah produk bagi saya itu adalah sebuah harga diri. Pihak internal dan eksternal memperhitungkan dan menilai keberadaan lembaga dari hasil kreativitas kami yaitu media. Saya menganggap media kami adalah ...

Urat Syarafku Tegang

Tulisan kali ini kubuat agak sedikit kasar. Maaf ini tak seperti biasanya. Tidak akan panjang lebar. Cukup beberapa bagian saja. Aku sedang kesal dan urat syarafku tegang. Aku tidak begitu paham penyebab utamanya, tapi aku coba untuk mengevaluasi dari rentetan kejadian hari ini. Angkot Tidak Mempunyai Mata   Tadi pagi aku membuat janji dengan teman untuk pergi bersama ke markas besar para rangers. Kami menyepakati untuk bertemu di jalan depan rumahnya. Usai tiba disana, aku mengirim pesan untuk mengabarkan bahwa aku sudah sampai. Kemudian aku memarkirkan motor agak menyudut ke perbatasan trotoar. Sambil menunggu, sesekali aku membuka ponsel berharap ada pesan masuk darinya. Kala itu aku sadar, di belakangku ada angkot yang sedang ngetem. Lalu aku berinisiatif memindahkan posisi motor. Tak berapa lama aku merasa ada pesan masuk pada ponsel. Kemudian ku baca. Ketika hendak membalas pesan tiba-tiba saja ponselku terjatuh. Seperti ada dorongan keras dari belakang, yang t...

Bebe Said

(+) "Bapak-bapak, kalau Iaa nikah Ayang pake baju pengantin ga?" (-) "Dua taun lagi KKN, Kuliah kerja Nikah!" #oke fine - -'

Bertemun Kenalan Lama

Ada seseorang yang harus aku temui di tengah kota sana, dihari ini. Tepat pukul 2 siang. Ia kenalan yang sudah lama tak kutemui. Mungkin sekitar 4 tahun kami tidak bertemu kembali. Waktu yang cukup lama. Awal dan akhir pertemuan kami yaitu ketika sama-sama mengikuti audisi presenter disalah satu stasiun TV swasta di kota Bandung. Dengan bermodal semangat aku mengadu nasib bersaing diantara mereka, kontestan yang memiliki beragam latar belakang. Ada yang sudah terbiasa menjadi MC, mendapatkan basic di sekolah radio   semacam DJ Arie, lalu berpengalaman dibidang penyiaran ataupun pernah mengikuti audisi seperti ini. Hal ini begitu timpang jika disandingkan padaku. Aku hanya seonggok remaja polos jebolan SMA yang hanya berorientasi pada ke-eksistensian diri saja. Apa-apa yang mereka miliki membuat aku jiper. Aku berharap hari itu mata para juri agak siwer atau tiba-tiba mereka khilaf hingga dapat meloloskanku. Namun ternyata semua tetap ilusi. Mereka masih sehat wal’afia...

Terimakasih Tuhan

[Suaka] Entah, namun aku sangat berterimakasih kepadamu, Yang Maha Kuasa. Karena selalu ada cara untuk-Mu dalam memberikan arah kepadaku. Mungkin ini belum mengungkap semuanya, meski sudah mewakili. Tapi terimakasih Tuhan, Engkau selalu mengikat hatiku dengan restumu.

2013

" tetaplah bersamaku jadi teman hidupku " Tulus-Teman Hidup