Tentang Tetangga Sebelah




Cuma tetangga sebelah yang suka melakukan hal ini, tapi itu dulu. Sebelum semua menjadi sandiwara dan luka. Kupikir sudah tidak ada lagi sisa cerita. Ternyata, saat membuat catatan pada note itu aku menemukan jejaknya.

Masih sama, khas sekali, persis seperti sediakala. Begitupun pada lain-lainnya yang aku simpan kemarin pada gambar. Ini membuat aku tiba-tiba teringat, yang lalu, yang hari ini harus dibiarkan.

Tetangga sebelah, di sini. Mulanya jual mahal. Tak kenal rupa. Berbicara hanya seperlunya tanpa basa-basi pula. Menyungging senyum pun jarang. Jika berjalan lurus ke depan padahal di samping dan di hadapan ada orang. Sedikit tidak paham memang tapi kuabaikan.

Lama-lama setelah berkenalan denganku, karet gelang yang sering mental. Ia seolah menjelma petasan tahun baru. Seperti analogiku, petasan. Keadaan itu tak berlangsung lama karena setelahnya kami berduka, menutup muka hingga hari ini dan entah sampai kapan, sesuka hatinya. Sekian~


Komentar

Postingan populer dari blog ini