Selembar Cerita Tentangmu

*Catatan, 26 Maret 2013 
Aku tidak pernah mengerti mengapa Tuhan harus memberikan kesempatan aku untuk bertemu denganmu. Kenangan memang terasa indah meski tetap hanya menjadi kenangan. Dan kesalahanku kemudian adalah tidak menyadari keberadaan itu. Entah, mungkin karena tidak ada yang harus dikenang lebih atau karena sikapku yang kurang sensitif dalam hal ini, yang pasti aku merasa terlambat untuk mengenangnya. Itu saja.

Sore ini pertemuan kita direstui Tuhan dengan berpayung awan. Meski tak banyak kata yang kau ucapkan. Aku tidak paham. Mungkin jika aku melibatkan  rasa aku tidak akan merasa secanggung ini. Tapi aku juga bukan peramal yang tahu bagaimana perasaannya.

Hanya saja aku tiba-tiba teringat keadaan saat aku terpesona oleh kepandaiannya. Aku tidak paham apakah ini hanya kagum atau lebih. Namun yang aku ingat ucapannya kala itu. "Ini bukan semata-mata menolong, hanya saja aku rindu melihatmu". Dan kemudian tadi sore kau mengungkapkan pernyataan yang membuat aku tak suka. Tapi, aku suka kau memperhatikan aku. Terimakasih dan semoga :)



*Catatan, 9 Mei 2013
Okey, ini mungkin bukan hal yang penting dan seharusnya ini biasa saja. Jangan berlebihan! Tapi entahlah, apakah karena perasaanku saja atau mungkin "iya". Ini sedikit berbeda. Ah, semoga tidak!

Setelah malam itu, kemudian Rabu menjadi sedikit berbeda. Udaranya sedikit sesak sehingga membuatku gelisah. Kemudian hujan mencoba mengguyur aku untuk sekedar menjadi penawar haus disiang itu. Tapi ternyata langit seperti murka. Begitu juga angin yang bersamanya. Apa pula petir yang tiba-tba menyambar lalau menghembuskan hawa ke arah barat.

Untungnya, malam kembali bersahaja. Aku dipeluknya sambil ditemani segelas susu. meski tidak ada ceria pada Rabu namun aku dapat merabanya ketika hujan menghentikan deras yang kemudian aku dirangkul gerimis.

Dalam samar lampu temaram, kudapati ia dengan jelas bersama sisa puntung rokok terselip pada jemari. Di sana ia seperti bimbang. Mungkin, Tapi juga mungkina ia sepi. Jelas, karena Rabu seolah mati, begitupun pada Kamis. Ini biasa!

#ditemani sepotong coklat yang masih kusimpan dari Selasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini